Pemanfatan Teknologi
tepat untuk mengelola sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM)
Worldwikileas.
Dalam kehidupan
sehari-hari, kita tidak bisa terlepas dari yang namanya sampah plastik. Setiap kita
belanja di pasar atau supermarket, membeli minuman, membeli nasi bungkus, dan
aktifitas lainya yang mengunakan plastik, maka kita telah menyumbangkan sampah
plastik yang sangat membahayakan bumi kita. Plastik sangat sulit terurai
sehinga upaya untuk mengurangi atau lebih tepatnya melenyapkan sampah plastik
harus segera di lakukan jika kita tidak menginginkan bumi kita rusak.
Plastik terbuat dari
bahan sintetis dengan minyak bumi sebagai bahan utama. Jelas bahwa plastik
memiliki kandungan minyak, sehingga sampah plastik dapat diolah menjadi bahan
bakar minyak. Jika kita membakar plastik, maka minyak di keluarkan oleh
plastik. Jadi, pengelolaan ini bertujuan untuk mengembalikan plastik ke bentuk
semula. Sehingga upaya untuk mengelola sampah plastik menjadi BBM melalui
pemanfaatan teknologi tepat guna harus di lakukan sebelum bumi kita “dibungkus”
oleh plastik.
Penanganan sampah
plastik yang efektif adalah dengan memutus rantai polimer (fraksinasi). Metode pemecahan
rantai polimer yang sudah di kenal adalah pirolisis, gasifikasi, degradasi
ternal maupun katalitik. Pengolahan sampah plastik yang paling memungkinkan
adalah metode pirolis.
Pirolis adalah
dekomposisi kimia bahan organik melalui proses pemanasan tanpa atau sedikit
oksigen atau reagen lainnya. Pirolisis dilakukan di dalam sebuah pengurangan
atmosfer (hampa udara) pada temperatur hingga 800 C. Limbah plastik melalui
feedstock petrokimia seperti nafta, liquid dan wax seperti hidrokkarbon dan gas
serta minyak dasar untuk pelumas. Teknik pirolis telah di gunakan sejak awal
tahun 1930 di jerman untuk peningkatan residu hidrogenasi yang di peroleh dari
pencairan/pelelehan batubara.
Beberapa penelitian
seputar konversi sampah plastik menjadi produk cair berkualitas bahan bakar
telah di lakukan dan menunjukan hasil yang telah di lakukan dan menunjukan
hasil yang cukup prospektif untuk di kembangkan.
Di jepang sudah ada
beberapa pengolahan sampah plastik menjadi BBM yang sudah masuk skala komersial
mulai yang skala kecil hingga skala besar. Untuk itu, sudah saatnya Indonesia
perlu melakukan pengembangan terhadap pemanfaatan teknologi tepat guna untuk
mengelola sampah plastik menjadi BBM. Kebijakan ini dapat di laksanakan dengan
pedoman pada Bab V (Pengembangan dan Penerapan Teknologi) Pasal 33 PP RI Nomor
81 tahun 2012.
Dalam hal ini, sistem
pengolahan sampah plastik yang di gunakan adalah metode pirolis atau destilasi
kering. Limbah plastik dipanaskan di atas suhu leburnya sehingga menjadi uap.
Proses pemanasan ini menyebabkan perekahan pada molekul polimer plastik menjadi
potongan molekul yang lebih pendek. Selanjutnya, molekul-molekul ini di
dinginkan jadi fase cair. Cairan yang dihasilkan jadi bahan dasar minyak atau
minyak mentah. Dengan destilasi ulang mengunakan temperatur berbeda, yakni mengacu
pada titip uap, minyak mentah diproses menjadi premium atau solar.
Peralatan yang
digunakan untuk mengkonversi sampah plastik menjadi BBM dapat di peroleh dengan
membuat atau memodifikasi sendiri mengunakan matrial yang sudah diperoleh. Namun
jika tidak memungkinkan dapat di peroleh dengan membeli peralatan yang telah
terjaual di pasaran.
Cara membuatnya :
Pada sampah
pelastik dimasukan pada tabung reaktor melalui main hole dan dipanaskan pada
temperatur tertentu, sehingga pelastik akan mencair dan kemudian menguap
menjadi gas dan gas tersebut dialirkan pada tabung destilasi utk diubah menjadi
cair dan cairan minyak tersebut pada tabung destilasi bertingkat akan di
saring berdasarkan titik didih karena titik didih solar, bensin dan minyak
tanah berbeda kemudian dialirkan melalui pipa-pipa ke tabung penampungan.pada
ecogreen temperatur yg dibutuhkan utk proses pengolahan pelastik menjadi BBM
sbb:
1. Pada temperatur 90 derajat akan ada penguapan air yg terkandung di sampah pelastik ditandaai dg uap
air yg keluar menyerupai asap putih
2. Pada temperatur 180 derajat BBM mulai keluar.
3. Pada temperatur 250 derajat BBM akan mengalir deras (titik optimum)
4. Pada temperatur 300 derajat bahan baku (sampah pelastik) mulai habis ditandaai dengan aliran BBM
yg semakin sedikit.
5. Segera matikan pemanas. proses dapat dilanjutkan kembali setelah tabung reaktor dingin
(temperatur ruangan)
Kelengkapan
pada
a. Tungku
a. Tungku
b. Kompor
gas tekanan.
c. selang dan regulator tekanan
d. tabung reaktor
e. Tabung destilasi
f. termometer
g. Pressure tekanan
c. selang dan regulator tekanan
d. tabung reaktor
e. Tabung destilasi
f. termometer
g. Pressure tekanan
Langkah pengoprasian
1. Letakan pada lantai yg rata.
2. Ruang pengoprasian terlindung dari hujan, proses Ecogreen menggunakan panas jadi
sangat berbahaya bila seketika terkena air dapat menimbulkan ledakan.
3. Sirkulasi udara ruang pengoprasian harus lancar, pada saat beroprasi mesinya.
akan mengeluarkan gas buang yg mudah menyala bila gas tersebut tertahan akan menimbulkan
bahaya ledakan.
4. Siapkan alat pemadam kebakaran, air dan karung basah serta pasir utk mengantisipasi.
1. Letakan pada lantai yg rata.
2. Ruang pengoprasian terlindung dari hujan, proses Ecogreen menggunakan panas jadi
sangat berbahaya bila seketika terkena air dapat menimbulkan ledakan.
3. Sirkulasi udara ruang pengoprasian harus lancar, pada saat beroprasi mesinya.
akan mengeluarkan gas buang yg mudah menyala bila gas tersebut tertahan akan menimbulkan
bahaya ledakan.
4. Siapkan alat pemadam kebakaran, air dan karung basah serta pasir utk mengantisipasi.
Semoga Bermanfaat
janga lupa di share
👌👌👌👌👌👌👌😄😄😄😄























